HOUSEHOLD,  PARENTING

NO NANNY, NO CRY (PART 2)

Hello Readers !

Selamat siang.. masak apa hari ini?

Hari ini saya masak capcay dan ikan fillet dori krispi, hehe. Sekarang saya sedang makan masakan saya sambil menulis karangan indah di blog ini dengan topik yang sama dengan postingan kemarin.

Yup, melanjutkan postingan sebelumnya No Nanny, No Cry , saya bercerita bagaimana keadaan saya sebagai seorang ibu rumah tangga yang mengurus rumah, suami dan seorang balita tanpa kehadiran jasa asisten rumah tangga (ART). Nah untuk postingan bagian kedua ini, saya akan bercerita lebih lanjut mengurus rumah tanpa asisten sambil mengurus dua orang balita. Bayangkan DUA! Kebayang dong repotnya seperti apa?! Hmm…

 

JANGAN PIKIRKAN HAL-HAL YANG BURUK SEBELUM HAL TERSEBUT TERJADI

Saat anak pertama saya berusia 2 tahun 3 bulan, saya hamil. Mengetahui saya positif hamil, jujur saya sangat kaget. Ya, sangat sangat sangat kaget. Kami berdua, saya dan suami, memang berencana untuk memiliki anak kedua setelah anak pertama berusia dua tahun. Harapan memiliki dua orang anak terealisasi. Lalu mengapa harus kaget dengan kehamilan kedua? Bukankah itu suatu hal yang bagus, doa saya dan suami punya dua orang anak terkabul? Ya, memang benar. Namun, hal yang membuat saya kaget dan seperti belum siap untuk hamil adalah saya baru saja lepas ASI Eksklusif 2 tahun untuk anak saya yang pertama, badan saya baru saja kembali ideal, setidaknya berikan saya waktu untuk satu tahun saja untuk menikmati ‘kebebasan’ lepas dari kehamilan dan menyusui. Terlebih, Syara – nama anak saya yang pertama, baru mulai join kelas di Rockstar Gym , kegiatan dimana saya pasti menemani dia beraktivitas di sana mulai dari berangkat, ikut kegiatan di dalam kelas, hingga pulang. So, pekerjaan saya bertambah yaitu mengurus rumah, keluarga ditambah mengantar anak sekolah (walaupun Rockstar bukan sekolah tetapi saya sebut saja sekolah ya) yang notabene semua saya lakukan sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga. Mengingat hal tersebut hal yang terbesit pertama kali adalah

can i do this all by my self?!”

Saya utarakan hal tersebut kepada suami dan dia merespon dengan kalimat andalan

relax saja, let it flow“.

Then what? Apa yang suami saya katakan memang benar. Ternyata saya masih tetap bisa menjalankan tugas rumah tangga tanpa asisten dengan happy dan tidak merasa terpaksa, bahkan saat anak kedua lahir pun saya sama sekali tidak merasakan adanya kerepotan mengurus bayi sekaligus balita. Believe it or not, malah terkesan lebih sulit dan repot saat anak saya masih satu orang!

 

DUKUNGAN SUAMI SANGAT PENTING UNTUK SEORANG IBU RUMAH TANGGA

Ya, dukungan suami terhadap seorang istri terhadap hal apapun sangat penting. Sekecil apapun bentuk dukungannya akan mempengaruhi kondisi pikiran, hati dan perilaku istri dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, dukungan suami menjadi hal yang wajib dilakukan kepada para ibu rumah tangga terlebih kepada mereka yang bekerja sendiri tanpa jasa asisten di rumah. Bayangkan saja, saat istri sudah terlalu lelah mengurus rumah dan anak, suami mengeluh dan menggerutu melihat rumah yang masih saja berantakan. Apa yang akan terjadi? Istri akan segera merapikan rumah seketika? Tidak. Mungkin keadaan akan lebih berantakan. Istri mengganggap suaminya tidak pengertian dan segala pikiran negatif lainnya. Intinya akan lebih banyak kekacauan yang akan terjadi dimasa depan. Oh No!

Sebagai seorang istri, saya merasa beruntung memiliki seorang suami seperti suami saya. Status saya sebagai ibu rumah tangga didukung penuh oleh suami. Dia memahami bahwa pekerjaan saya tergolong sulit, mengurus rumah sekaligus mengurus dua orang balita. Dia tidak menuntut saya sempurna dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Awal kami baru menikah, skill memasak saya sangat kacau dan dia memaklumi dengan tetap memakan masakan saya – ya mungkin dengan sangat terpaksa daripada kelaparan, hahaha.

Akhir pekan, dia membantu membersihkan rumah seperti mem-vakum lantai, mengepel, mencuci kain lap kotor, mengelap meja makan. Dia juga biasanya membantu mencucikan tumpukan piring kotor sebelum berangkat kerja. Dia membantu meringankan pekerjaan setrika pakaian dengan memutuskan menggunakan jasa laundry kiloan. Dia mengantar dan mengambil kembali pakaian yang telah disetrika rapi oleh laundry. Dia juga bersedia membuang tumpukan sampah dari dalam rumah ke luar rumah – dia tahu saya jijik melakukan hal tersebut. Dia bersedia memijat punggung saya yang pegal setelah kelelahan mengurus pekerjaan rumah tangga. Bahkan dalam urusan mengurus anak, dia turun tangan. Unbelieveable, sejak anak-anak lahir sampai mereka berusia 6 bulan, suami saya lah yang membantu pekerjaan saya dalam memandikan anak-anak. Setiap hari di waktu pagi selama enam bulan awal, sebelum berangkat ke kantor, dia bersedia memandikan anak-anak. Sementara saya memasak sarapan dan menyiapkan baju anak-anak setelah mandi. Dia juga yang meng-handle tali pusar anak-anak saat mereka bayi hingga tali pusar mengering. Dia bersedia begadang untuk menggendong anak-anak di malam hari saat saya sudah terlalu lelah. Dia pun tidak segan untuk menggantikan diapers atau membersihkan muntah anak-anak. Sebagai suami, saya akui dia suami dan ayah yang luar biasa. Pekerjaan suami yang super duper sibuk dan melelahkan di kantor masih bisa meluangkan waktu untuk membantu pekerjaan saya di rumah. Semua yang suami saya lakukan bukan sekedar bentuk dukungan namun sebuah kerjasama.

 

Ya, selain dukungan suami, kunci keberhasilan dan kebahagiaan ibu rumah tangga tanpa asisten adalah adanya kerjasama dengan suami.

 

KELOLA WAKTU DENGAN SEBAIK-BAIKNYA DAN BE A MULTI-TASKING PERSON

Hal ini sebenarnya adalah mutlak dimiliki ibu rumah tangga namun, terkadang ada saja yang membuat keadaan untuk tidak dapat mengatur waktu dan memanfaatkan kesempatan dengan baik. Bagi saya, saya berusaha untuk mengatur sebaik mungkin waktu yang ada agar semua pekerjaan rumah tangga terlaksana. Sering kali saya mendapat pertanyaan, bagaimana bisa saya memasak, mengurus anak namun tetap bisa online mengakses Instagram bahkan memiliki waktu untuk menggunakan masker wajah. Well, salah satunya ya itu tadi masalah pengaturan waktu.

Aktivitas rumah tangga dimulai dari pagi hari setelah bangun tidur. Honestly, i am not a morning person. Saya masih sering bangun kesiangan, sekitar jam 7 pagi baru bangun, hehe. But, saran saya bangun lebih awal sekitar jam 5 pagi adalah yang terbaik dan saya berusaha untuk hal itu. Bangun tidur saya pasti langsung menuju dapur menyiapkan sarapan untuk suami, mengeluarkan daging ayam beku dan menyiapkan aneka sayuran untuk dimasak. Bila suami tidak sempat membantu mencucikan piring kotor sisa semalam, saya akan mencuci sambil menyiapkan sarapan, terkadang sambil menggendong anak dan menyusui anak. Untuk hal ini jangan dibayangkan karena betapa repotnya bagi yang belum terbiasa. Dalam waktu yang sama, saya juga mengumpulkan pakaian kotor untuk saya masukkan ke dalam mesin cuci. Perlu diketahui bahwa saya tidak mencuci pakaian setiap hari, saya mencuci hanya pada hari senin dan jumat, hari sabtu saya serahkan seluruh pakaian bersih untuk disetrika di laundry kiloan. Selanjutnya sambil menunggu mesin selesai mencucikan pakaian, saya kembali ke dapur dan sarapan bersama suami sebelum dia berangkat bekerja. Do you know? saat menunggu masakan matang saya bisa melakukan hal yang menyenangkan seperti mengakses Instagram, browsing hal-hal yang saya suka, bahkan menulis blog seperti ini. Nah, termasuk bisa curi-curi waktu untuk me time kan di tengah kesibukan? Kemudian dalam hal mengurus anak, saya akan memandikan dan menyuapi anak-anak dalam waktu bersamaan (saat sedang menyuapi anak-anak, saya biasanya juga sambil makan) yang akan di lanjutkan bermain bersama mereka. Namun saat si Bungsu Kennard berusia 6 bulan, aktifitas memandikan dilakukan oleh suami saya. Selesai mandi dilanjutkan menyusui dan kembali tidur sehingga saya bisa memasak atau melakukan aktivitas lainnya. Oh ya, saya punya sedikit trik agar kegiatan memasak bebas dari gangguan anak-anak, raciklah bumbu dan potonglah sayuran pada malam hari. Itu akan menghemat waktu keesokan harinya untuk memasak (setidaknya sebagai antisipasi apabila esok hari keadaan anak-anak tidak terkendali) sehingga saya hanya tinggal menumis, merebus atau menggorengnya.

 

DON’T PANIC, STAY CALM AND LET IT FLOW

Hal ini saya terapkan saat keadaan rumah sedang di luar kendali. Anak rewel dan menangis merengek-rengek, anak mengajak bermain sementara saya belum selesai memasak atau menjemur pakaian dan hal tak terduga lainnya yang membuat suasana rumah menjadi kacau. Well, saya akan menjelaskan melalui beberapa contoh jawaban-jawaban dari pertanyaan yang sering saya dapatkan.

  1. Apa yang akan dilakukan saat anak saya yang masih bayi menangis, padahal saya masih sibuk memasak di dapur? Jawabannya : menggendongnya sambil tetap memasak. Apabila masih tetap menangis atau merasa agak sulit menggendong sambil memasak, saya pending aktifitas memasaknya. Biarkan dia menyusui atau mengajak dia bermain hingga dia bisa dilepas dan tidak menangis. Toh, saya tidak sedang mengikuti lomba memasak kan? Pending aktifitas, dahulukan kepentingan anak.
  2. Masakan belum siap, si Sulung lapar ingin makan, sementara adiknya masih ingin digendong, apa yang saya lakukan? Di rumah, nasi selalu ada sehingga saya tinggal memasak makanan pendampingnya. Memasak masakan yang mudah adalah solusinya, seperti membuat ceplok telor, menggoreng kentang, kornet, nugget ataupun sosis.
  3. Masak belum beres, pakaian belum dijemur, cucian piring masih menumpuk, rumah masih berantakan, anak-anak belum makanmana yang harus saya lakukan terlebih dahulu? Selalu dahulukan anak, berikan mereka makanan yang penyajiannya tidak membutuhkan waktu yang lama. Untuk si Sulung saya akan buatkan makanan seperti yang telah saya katakan sebelumnya, untuk si Bungsu yang masih bayi akan saya berikan bubur instan khusus bayi. Setelah itu saya masak kemudian menjemur baju atau hal lainnya. Relax mom, pekerjaan ibu rumah tangga bagi saya tidak ada deadline nya 🙂.
  4. Bayi sudah digendong, disusui, namun tetap menangis, dirumah tidak ada orang yang bisa diminta bantuan, dan tentunya pekerjaan rumah belum selesai. Apa yang saya lakukan? Jawabannya hanya satu, jangan panik! Jangan memikirkan keadaan rumah yang berantakan, belum sempat memasak dan lainnya. Fokuslah pada bayi. Tetaplah gendong sambil mengajak bayi bermain, berbicara, bernyanyi dan jangan lupa berikan senyuman. Semakin panik, bayi akan semakin menangis tidak berhenti. Ciptakan good mood pada bayi dan anak karena bagi saya itu adalah kunci agar saya dapat beraktivitas mengerjakan pekerjaan rumah secara lancar.

So, ya itu beberapa hal yang saya lakukan di rumah. Saran untuk tidak panik dan tetap tenang dalam keadaan hectic memang terdengar sedikit berat. But, trust me it really works!

 

JANGAN MENETAPKAN STANDAR YANG TINGGI

Apa maksudnya?

Ya, tanpa disadari terkadang kita terlalu memiliki ekspektasi dan menetapkan standar yang tinggi terhadap suatu hal. Saat gagal mencapai standar tersebut biasanya kecewa bahkan tertekan. Bila sudah dalam keadaan stress atau tertekan, semua aktivitas menjadi sangat tidak bersahabat dan menyenangkan. Hal ini sepertinya perlu diterapkan oleh ibu rumah tangga terutama ibu yang memiliki balita tanpa asisten atau baby sitter di rumahnya agar less-stress dan tetap happy. Sebagai ibu rumah tangga, saya tidak berekspektasi rumah akan selalu dalam keadaan 100% rapi, bersih dan bagi para suami jangan berharap istri menghasilkan masakan yang banyak dan enak seperti di restoran, hahaha. Buang jauh pikiran bahwa rumah akan terlihat cantik dan kinclong seperti di majalah interior design apalagi memiliki balita di rumah. Of courses not dan hampir mustahil. Saya memiliki dua orang balita dan itu artinya harus siap dengan keadaan rumah yang tidak kunjung rapi setiap saat. Saya harus menerima konsekuensi bahwa setelah merapikan mainan anak-anak ke dalam toys box, beberapa jam kemudian mainan pasti akan kembali dikeluarkan dari box oleh anak-anak. Saat waktu makan tiba, jangan berharap meja makan dan lantai bersih dari tumpahan remah- remah, cipratan air minum dan soup. Walaupun pada awalnya saya tidak berekspektasi rumah yang selalu rapi dan bersih, sebagai manusia biasa saya terkadang masih merasa kesal, keadaan rumah yang tidak beraturan, berkali-kali merapikan dan membersihkan tetap saja kembali kotor dan berantakan. Namun, ada perkataan suami saya yang menguatkan hati dan selalu saya ingat. Bersabarlah bila rumah selalu berantakan dengan mainan atau makanan anak-anak yang berceceran di lantai, seiring usia mereka bertambah besar rumah akan jauh lebih rapi dan kamu pasti akan merindukan hal itu. 🙂

 

BILA SEDANG TERLALU LELAH ATAU JENUH, TINGGALKAN SEJENAK RUTINITAS DAN LAKUKAN HAL YANG MENYENANGKAN

Ini selalu saya lakukan saat saya sedang benar-benar jenuh ataupun lelah. Ya, bagi saya tidak ada salahnya para ibu rumah tangga istirahat meninggalkan rutinitas sejenak. Saya sarankan untuk tidak memaksakan diri bila memang sudah terlalu lelah atau jenuh. Saat kebutuhan anak-anak sudah terpenuhi, luangkanlah waktu untuk diri sendiri. Lupakan keadaan rumah yang masih berantakan oleh berbagai mainan anak-anak ataupun lainnya. Bersantailah sejenak untuk meningkatkan mood kembali happy. Pesanlah makanan dengan layanan antar ke rumah saat sedang ‘malas’ untuk memasak, sempatkan diri untuk menggunakan masker wajah, browsing produk makeup atau meminum secangkir coklat panas sambil menonton acara televisi favorit dan semua hal yang dapat menyenangkan hati. Lagipula bila ibu happy, suasana seisi rumah happy, kan? 🙂

No nanny is really no ‘cry’ for me.

Mungkin orang yang membaca tulisan saya ini bertanya-tanya apa alasan saya untuk tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga. Bila masalahnya bingung siapa orang yang tepat untuk di-hire, sekarang sudah banyak agen penyalur asisten rumah tangga. Ya, pada awalnya memang itu lah alasan saya dan suami untuk tidak menggunakan ART atau baby sitter. Saya dan suami juga merasa risih dan tidak suka bila ada orang lain selain keluarga yang tinggal di rumah bersama kami. Alasan lain yang juga penting adalah gaji ART di kota besar yang terlampau tinggi untuk dikeluarkan setiap bulannya. Bagi saya dan suami, angka tersebut dapat di alokasikan untuk hal lain yang lebih berarti dan penting, misalnya budget liburan, mencoba makanan di cafe-cafe mahal atau lainnya hehe. Bukan berarti kehadiran ART itu hanya buang-buang uang, namun saya merasa masih bisa mengerjakan sendiri pekerjaan rumah dengan senang hati tanpa kehadiran mereka. Yang terpenting saya terbebas memikirkan problematika majikan-asisten seperti yang sering saya dengar dari cerita teman-teman. Tanpa ART, saya tidak perlu memikirkan apakah perabot dapur, lantai atau pakaian sudah benar-benar bersih dibersihkan olehnya, apakah anak-anak saya diperlakukan dengan baik saat saya sedang lengah, apakah asisten itu akan kembali lagi ke rumah setelah mereka pulang ke kampungnya bahkan tanpa asisten saya tidak perlu memusingkan kenaikan gaji mereka yang semakin tinggi. Bagi saya memikirkan hal tersebut jauh lebih pusing dari sekedar memikirkan rumah yang tidak kunjung rapi hehehe.

Well, setiap masing-masing keluarga memiliki alasan tersendiri untuk meng-hire asisten atau tidak di rumahnya. Bagi ibu rumah tangga yang memutuskan tanpa bantuan ART atau baby sitter di rumah seperti saya, semangat Moms!

Ingat, bahagia itu diciptakan oleh kita sendiri. 🤗

Terima kasih yaa telah menyempatkan membaca tulisan ini. Semoga tulisan saya ini dapat bermanfaat. 🙏🏻

Untuk para suami yang sudah membaca tulisan ini, jangan lupa bantu istrinya di rumah yaa 🙂 .

Xx

3 Comments

  • dhian

    hai mbak,
    salam kenal, saya dhian. mau nanya dong tentang tanpa ART, dan mbak hamil anak kedua.
    pernah gak suami pas dinas luar kota, dan mbak sakit?
    itu handle-nya bagaimana?
    makasih ya sebelumnya

    • hellomamika

      Hi Nisha. Iya masih tanpa ART. Rasanya yaa biasa aja jadinya yg awalnya ngerasa repot lama2 terbiasa 🙂 ga ada beban..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *