CULINARY,  LIFE STYLE

Malam Mingguan Di THE STONE CAFE Bandung

Hello Readers !

Jum’at lalu, saya sekeluarga memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan di Bandung. Tujuan utamanya pastilah karena orangtua. Sebisa mungkin, setiap satu bulan sekali, kami ke Bandung untuk menengok orangtua.

Biasanya, setiap ke Bandung, saya, suami dan anak-anak tidak pergi ke mana-mana. Hanya di rumah. Aktifitasnya tidak jauh dari tidur-tiduran, ngemil, ngobrol dan menonton televisi. Ya karena udara di Bandung bikin mager. Alias malas gerak, malas ngapa-ngapain. Hehe.

Nah, kemarin, suami bosan kalau aktifitas di Bandung gitu-gitu aja.

Suami bilang, dia ingin ngafe sambil dengerin live music.

Bingung juga dengan request suami itu. Cafe di Bandung kan banyak banget. Sebagai orang yang tidak update dengan referensi cafe di Bandung, pilihan list cafe dengan live music pun bermodal ingatan cafe yang pernah saya dan suami kunjungi saja waktu dulu jaman kuliah dan masih pacaran . Akhirnya, dari sekian list yang ada, suami memilih The Stone Cafe.

 

THE STONE CAFE

Sebelum saya bercerita lebih lanjut tentang The Stone Cafe Bandung, siapa yang di sini sudah pernah makan di cafe ini? Belum pernah ke sana? Atau bahkan belum pernah mendengar?

Bagi kalian yang tidak tinggal di Bandung, belum pernah mendengar namanya itu, wajar. Namun, jika kalian pernah tinggal di Bandung dan belum pernah mendengar The Stone Cafe, kalian ke mana aja? Hehehe.

 

SALAH SATU CAFE POPULER DI DAERAH DAGO PAKAR BANDUNG

The Stone Cafe ini tergolong cafe yang sudah lama ada ya. Jaman saya kuliah dan masih pacaran sama suami saja sudah eksis dan populer. Lokasi cafe ini ada di daerah Dago Pakar.

Udaranya sejuk banget, terlebih saat malam hari.

Cafe ini juga menyajikan panorama kota Bandung. So, kalau malam hari ke sini tuh suasananya romantis. Makan sambil menikmati pemandangan lampu-lampu di kota Bandung dengan udara yang sejuk.

 

THE STONE CAFE, TEMPAT YANG COCOK UNTUK DINNER DENGAN SUASANA ROMANTIS

Saya jadi ingat cerita jaman dulu saat saya masih kuliah dan berpacaran dengan suami. Dulu, bagi saya, momen Valentine-an adalah momen yang cocok untuk dinner romantis di cafe-cafe atau restoran. Biasanya, pilihan cafe atau restorannya ada di daerah Dago Pakar. Alasannya karena cafe di sana memang menawarkan panorama yang indah dengan udara yang sejuk.

Di antara berbagai pilihan cafe dengan suasana romantis di Dago Pakar selain Sierra, The Valley, Congo, The View, dan lainnya yang ada di daerah sana, The Stone Cafe juga menjadi pilihan favorit kami berdua.

Saking ramainya cafe-cafe daerah sana saat hari Valentine, reservasi tempat pun harus dilakukan, termasuk The Stone Cafe ini.

 

THE STONE CAFE HARI INI

Kembali ke cerita awal, malam mingguan di Bandung. Setelah suami memilih The Stone Cafe untuk menikmati malam mingguan di Bandung, kami berdua pun mengajak kedua orang tua dan tak lupa duo krucil. Hehe. Bagi saya dan suami, kunjungan kemarin ke The Stone Cafe bukanlah kunjungan yang pertama. Kami berdua pernah makan malam di cafe ini. Saya lupa tahun berapa. Yang jelas, kami berdua masih berpacaran. Ketika sudah tiba di The Stone Cafe, saya lihat, sepertinya bentuk cafe tidak ada yang berubah atau memang saya yang tidak menyadari adanya perubahan? Perbedaan kunjungan saya dan suami kala itu dan kemarin, hanyalah posisi tempat duduk saja.

Kala itu, kami duduk di area balkon lantai 2 atau 3. Sayang sekali memang, kami berdua tidak kebagian duduk di area luar, di saung-saung bebatuan khas The Stone Cafe. Seperti yang saya katakan, harus reservasi tempat terlebih dahulu karena memang sepertinya menjadi spot favorit para pengunjung. Saat tiba di cafe pukul 5 sore pun sudah banyak tempat yang dipesan. Beruntung, kami mendapat tempat di saung bebatuan yang diinginkan. Suasana posisi duduk di area ini memang lebih terasa romantis, terlebih malam hari diikuti pemandangan cahaya lampu malam kota Bandung.

 

AREA DUDUK THE STONE CAFE

Dulu, area balkon lantai 2 dan 3 dibuka untuk pengunjung. Namun, saat saya datang kemarin, balkon terlihat gelap. Bahkan sepertinya bagian dalam di lantai 2 dan 3 sudah tidak digunakan untuk pengunjung karena tidak ada pantulan cahaya dari dalam jendela. Atau mungkin saat kemarin memang sedang kosong, tidak terisi tamu pengunjung?

Skip masalah lantai 2 dan 3, hehehe. Jadi, The Stone Cafe ini kalau saya perhatikan ada 3 area tempat makan. Area kiri, tengah dan kanan.

Area kiri atau sisi kiri, berjejer saung-saung bebatuan.

Bentuk jalan setapak menuju saung ini berundak-undak. Jumlah tempat dengan saung, saya tidak tahu. Tetapi, lumayan banyak. Satu saung juga bisa digunakan untuk 4-6 tamu atau bahkan lebih. Enaknya duduk di area saung adalah tidak gabung dengan tamu lain. Satu saung ya satu tamu, jadi lebih privat.

Area kanan atau sisi kanan, terdapat beberapa saung juga dan area tempat makan indoor.

Area kanan ini bersebelahan persis dengan lahan parkir. Namun, posisi duduk di area kanan ini juga ada yang indoor alias dalam ruangan. Bentuknya juga sama seperti saung yaitu duduk lesehan. Yang membedakan adalah lesehannya di ruangan tertutup dan gabung dengan pengunjung lainnya.

Area tengah berada di dalam menjorok ke belakang, indoor dan balkon.

Area duduk ini bentuknya bukan lesehan. Melainkan meja dan kursi. Nah, dulu saya duduk di area ini. Tepatnya bagian balkon atas. Biasanya, tamu pengunjung yang duduk di area ini lebih bisa menikmati live music. Sebab, stage-nya berada di teras depan area tengah. But, di area manapun sebenarnya juga masih kedengeran juga suara si penyanyi. Hanya wujudnya saja yang tak terlihat. Hehehe.

 

MENU THE STONE CAFE

Baiklah, setelah menceritakan posisi duduk di cafe ini, saya akan ceritakan ke masalah inti yaitu menu! Bagaimana menu makanan di sana? Ada apa saja? Harganya berapa? Yuk, jangan bobo dulu. Lanjutin bacanya! Hihihi.

Di The Stone Cafe ini, berdasarkan menu yang saya lihat dan maaf tidak sempat saya foto buku menunya, menu makanannya terdiri dari tiga jenis. Menu Western, Asian dan menu Indonesia yang lebih condong ke menu tradisional ala Jawa Barat.

Untuk menu Western-nya, ada pasta, pizza, steak, salad, bruschetta dan cheese cake. Kemarin, saya mencoba beberapa menu western yang ada di sana. Di antaranya, Lasagna, Pizza, Dory Risoto, Carbonara, Zupa-Zupa dan Banofie Pie.

Untuk menu Asian, ada sapo tahu, kwetiau, tom yum dan beberapa jenis lainnya. Menurut saya tidak begitu banyak varian asiannya. Sayangnya juga tidak ada satupun menu Asian yang saya pesan untuk dicoba.

Untuk menu Indonesia, variannya lumayan banyak sampai ke menu minuman seperti aneka wedang. Kemarin, saya memesan dua menu makanan Indonesia yaitu Bebek Bakar dan Nasi Goreng Kambing. Minumannya, saya pesan Bandrek dan Sekoteng.

 

HARGA, PORSI DAN RASA

Saya mulai dari menu makanan utama yang kemarin dipilih, penilaian harga, porsi dan rasa berbeda-beda. Namun, secara keseluruhan harganya sedikit mahal dengan porsi menu yang tidak begitu besar.

Menu Makanan Utama

Untuk jenis makanan western yang dipesan, salah satunya adalah Dory Risoto. Harganya termasuk standar. Porsinya sedang. Tidak terlalu banyak, juga tidak terlalu sedikit. Namun, mengenyangkan. Saya tidak sempat menyicipinya. Tetapi kata Ayah saya enak.

dori risotto the stone cafe bandung
Pan Fried Dory Risotto, IDR 85K

Untuk jenis pasta, harganya cenderung sedikit mahal. Terutama untuk Lasagna dengan porsi yang sangat kecil. Saya sendiri kaget melihat ukurannya yang mini saat lasagna tersebut disajikan oleh pramusaji. Namun, rasa lasagna-nya sangat enak. Saus bolognese nya disajikan terpisah. Jadi, biasanya saus sudah tercampur dalam tumpukan dagingnya, kalau ini terpisah. Sayang porsinya kecil dan sedikit, jadi kurang mengenyangkan bagi saya.

lasagna the stone cafe bandung
Lasagna, IDR50K

Sedangkan pasta jenis carbonara, harganya saya nilai sedikit mahal juga karena porsinya sedang dan rasanya juga biasa saja. Menurut saya, Fettucine Carbonara ini tidak ada yang spesial. Berhubung ini pesanan anak saya, porsi pasta carbonara ini berukuran terlalu besar bagi anak saya. Namun, jika untuk dewasa, porsi ini tergolong pas.

fettucine carbonara the stone cafe bandung
Fettucine Carbonara, IDR 65K

Untuk menu Indonesia yang dipilih, bebek bakar dan nasi goreng kambing, harga keduanya memang lumayan mahal. Untuk Bebek Bakar, potongan daging bebeknya besar sekali. Nasinya pun lumayan banyak. Menu pendampingnya ada rempeyek dan sambal. Soal rasa, kami semua yang menyicipinya berpendapat bahwa daging bebeknya rasanya enak! Dagingnya sangat lembut. Sambalnya enak dan tidak terlalu pedas menyengat.

bebek bakar the stone cafe bandung
Bebek Bakar, IDR 90K

Sedangkan untuk Nasi Goreng Kambing, harganya lumayan mahal juga dengan porsinya yang sedikit. Namun, dagingnya lumayan banyak. Bumbu nasi gorengnya berasa dan sangat enak sih menurut saya dan suami. Nasi gorengnya juga bisa request tingkat kepedasannya. Jadi, kalau tidak suka pedas, bisa request tanpa cabe atau sambal. Begitu juga sebaliknya.

nasi goreng kambing the stone cafe bandung
Nasi Goreng Kambing, IDR 60K

Selanjutnya, makanan cemilan. Termasuk pizza dan zupa-zupa yang menurut saya itu adalah cemilan. Hehehe.

Menu Cemilan

Pizza yang kemarin saya pesan namanya adalah Pizza Carbonara. Termasuk jenis pizza tipis. Di atasnya terdapat toping daging asap dan jamur dengan saus carbonara. Harga untuk ukuran large menurut saya lumayan mahal karena tipis dengan rasa yang kurang begitu enak. Topingnya juga tidak terlalu banyak. Hehehe. Saya sih tidak menyarankan untuk memesan pizza carbonara ini. Mungkin lain cerita jika saya memilih pizza varian lain.

pizza carbonara the stone cafe bandung
Pizza Carbonara, IDR 90K

Zupa-Zupa ini pesanan anak saya juga. Harganya standar dan sesuai dengan porsi Zupa-Zupa. Rasanya enak. Potongan daging ayam dan jamur di dalamnya juga lumayan banyak. Menu ini cukup mengenyangkan terutama untuk anak-anak saya.

zupa zupa the stone cafe bandung
Zupa Zupa, IDR 40K

Banofie Pie Berrys ini pesanan terakhir kami sekeluarga. Request anak juga. Awalnya minta cheese cake. Namun begitu melihat ada gambar eskrim di foto Banofie, dipilihlah menu ini. Soal harga, harganya standar untuk makanan penutup. Porsinya di dalam gelas berukuran tidak terlalu kecil. Krim susunya kental sekali dengan es krim coklat padat yang rasanya enak. Tetapi, secara keseluruhan rasa, rasanya biasa saja. Sama seperti pizza, saya juga kurang merekomendasikan banofie ini. But, ingat ya ini pendapat personal karena perbedaan selera rasa.

Kalau pesan makan tanpa minum rasanya ada yang kurang kan? Nah, ini dia pendapat saya dan keluarga mengenai menu minuman yang ada di The Stone Cafe.

Menu Minuman

Untuk menu minuman rata-rata harganya masih standar cafe atau restoran sih menurut saya. Porsi dengan kualitas rasa masih sesuai dengan harganya.

Teh Poci Tong Tji ini adalah pesanan suami saya. Disajikan dalam bentuk cangkir kecil beserta poci yang terbuat dari tanah liat. Dari harga, porsi dan rasa semuanya sesuai dan masih masuk akal untuk ukuran cafe sekelas The Stone Cafe ini.

teh tong tji the stone cafe bandung
Tong Tji Teh Poci, IDR 20K

Jus Strawberry pesanan Ayah saya. Harga jusnya memang bisa terbilang mahal. Namun, porsinya cukup banyak dengan rasa stroberi yang enak. Maksud saya, tidak hanya banyak gula dan air. Komposisi buahnya memang banyak.

jus strawberry the stone cafe bandung
Fresh Strawberry Juice, IDR 40K

Begitu juga dengan jus mangga-nya. Rasanya mirip dengan jus mangga yang saya buat sendiri di rumah. Kental sekali. Tidak terlalu banyak air. Padahal porsinya disajikan dalam gelas yang lumayan besar dan tinggi.

Selanjutnya, Hot Chocolate. Ini adalah minuman pesanan saya. Porsinya dalam cangkir berukuran sedang. Rasanya benar-benar coklat dan sangat kental. Bagi saya sih kurang manis. Jadi, saya tambahkan lagi dua saset gula pasir karena saya penyuka minuman yang benar-benar manis. Namun, bagi yang suka rasa coklat asli, masih sedikit pahit dan tidak terlalu manis, hot chocolate ini bisa menjadi pilihan kalian. Enak kok!

hot chocolate the stone cafe bandung
Hot Chocolate, IDR 30K

Es durian kopyor ini adalah pesanan ibu saya. Saya tidak sempat menyicipinya juga. Untuk harga lumayan mahal dengan porsi yang tidak terlalu besar dan komposisi es yang lebih banyak dibandingkan isi topingnya. Untuk rasa, Ibu tidak bilang apakah ini enak atau tidak.

Menu minuman yang terakhir dipesan adalah wedang. Saya memesan tiga wedang. Dua sekoteng, satu bandrek. Semuanya enak. Perbedaannya hanya terletak pada toping yang ada di dalamnya.

BANDREK THE STONE CAFE BANDUNG
Bandrek, IDR 24K

Untuk bandrek, topingnya ada potongan daging kelapa dan kolang-kaling. Rasanya manis dan jahenya sangat enak. Porsinya juga lumayan besar.

Sedangkan sekoteng, isinya lebih lengkap. Ada tambahan pacar cina juga. Soal rasa, kurang lebih sama dengan bandrek. Porsinya sedikit lebih besar.

 

KESIMPULAN

Sebelum saya menarik kesimpulan, saya ingatkan lagi bahwa penilaian di atas adalah pendapat pribadi. Jadi, jika ada yang tidak sependapat, ya tidak apa-apa juga sih. Sebab, selera orang kan juga berbeda-beda. Ya, kan? Hehe.

So, The Stone Cafe menurut saya :

1. Family friendly cafe/resto.

Cocok banget untuk mengajak anak atau orang tua. Tempatnya nyaman, bersih dan varian menu makanannya cukup banyak untuk anak sampai orang tua.

2. Untuk harga, cenderung mahal namun terbayarkan dengan suasana di resto.

Mengingat lokasi dan pemandangan yang ditawarkan The Stone Cafe, harga makanan dan minuman di sana menjadi cukup sesuai atau worth it lah. Hitung-hitung, beli makanan sekalian juga beli suasananya. Plus-nya lagi dapat live music gratis.

3. Pelayanannya cepat dan ramah.

Jadi, di setiap spot atau area, pramusajinya itu banyak dan standby. Mereka semua ramah dan bersedia menunjukkan area duduk yang kosong sesuai request tamu. Setelah pesan menu pun, tidak perlu menunggu lama, makanan tersaji di meja. Padahal, saat itu tamunya cukup banyak dan ramai loh.

4. Ada LIVE MUSIC.

Ini jadi nilai plus. Ibaratnya, selain bayar menu makanan yang kita makan dapat bonus suasana dan pemandangan yang cantik, dapat juga alunan musik dengan lagu yang bisa kita request. Saya tidak tahu apakah setiap malam ada live music-nya, namun saat malam minggu ke sana, live music-nya ada.

5. Ada mushola dan beberapa toilet.

Di sini tersedia juga fasilitas mushola dan toilet yang tidak hanya satu buah saja. Toilet bersih. Begitu juga dengan mushola.

6. Lahan parkir sedikit terbatas.

Ini merupakan kekurangan dari cafe ini. Lahannya terbatas. Kebetulan, sore hari sebelum maghrib di malam minggu, lahan parkir masih kosong. Jadi, kalau mau malam mingguan di sini bisa datang lebih awal sebelum maghrib. Tak perlu khawatir sholat, kan ada mushola di The Stone Cafe. πŸ™‚

7. Terakhir, reservasi terlebih dahulu.

Kalau kalian ingin posisi tempat duduk di area saung, lebih baik melakukan reservasi via telepon dahulu sebelum datang. Terlebih untuk malam minggu. Kemarin, saat ke sana saja sudah banyak tempat yang dipesan. Malam pun, saung terisi penuh.

So, ya itu cerita dan penilaian saya tentang The Stone Cafe. Semoga informasi yang saya berikan dapat bermanfaat.

Sekian dan terima kasih sudah berkunjung untuk membaca blog saya ini. Mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak sengaja menyinggung pihak tertentu.

Salam hangat,

Ika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *