STORY OF M.CL PART 1

Hello Readers !

Bagi yang sudah membaca tulisan saya di postingan No Nanny, No Cry part 1, pasti tahu kalau saya memiliki usaha di bidang pakaian.

Yap, pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan tentang clothing brand tersebut.

M.CL (baca: em-syi-el) adalah clothing brand pertama saya. Ide terbentuknya M.CL dimulai sekitar tahun 2014. Kemudian M.CL aktif dalam penjualan yang dimulai pertengahan tahun 2015 – 2016.

Ide Awal Terbentuknya M.CL

Setelah menikah saya memutuskan menjadi seorang ibu rumah tangga. Namun, saya juga ingin memiliki kesibukan lain yang dapat menghasilkan uang tanpa harus kerja kantoran di luar rumah. Solusinya adalah bekerja sesuai passion yang dapat dikerjakan di rumah. Kebetulan passion saya dari dulu sampai saat itu ada di bidang fashion. Seketika langsung berkeinginan untuk kembali berjualan pakaian dengan label sendiri.

History jaman kuliah. Kembali berjualan baju? Ya, benar. Saat kuliah, saya sudah mencoba berjualan baju atasan untuk wanita. Berjualan untuk iseng-iseng saja sih karena memang suka hal yang berkaitan dengan fashion. Kebetulan saat itu saya berjualan tidak sendiri, melainkan dibantu adik saya terutama untuk urusan hitung-menghitung biaya. Tidak sebagai reseller, saya dan adik menjual baju produksi sendiri yang dijahit oleh penjahit non konveksi. So, saat itu hanya menjual 1-2 pieces per model dan tanpa label merek. Material baju yang digunakan adalah katun tipis dan silk chiffon. Saya memilih material tersebut karena silk chiffon terlihat mewah namun harga per meter nya cukup murah. Seingat saya, harga jual baju per pieces yang saya produksi antara 45 ribu sampai 65 ribu rupiah. Penjualannya berhasil? Hmm…tidak begitu berhasil, hanya beberapa yang laku terjual. Baju yang tidak terjual ya dipakai sendiri. Hehe.

Melihat respon yang membeli baju saya tidak banyak, saya berusaha untuk berdagang kembali. Kali ini berdagang aksesoris kalung. Masih bersama adik saya, kami berdua menjual kalung handmade dengan disain yang unik. Harga yang ditawarkan sekitar 30-40 ribu rupiah per pieces. Lagi-lagi respon penjualan belum sesuai harapan. Entah harga yang ditawarkan terlalu mahal atau modelnya kurang disukai. Akhirnya menyerah, saya dan adik kembali fokus pada perkuliahan. Sayangnya saya tidak memiliki foto baju atau kalung yang dulu sempat diproduksi.

History itu lah yang membuat saya ingin kembali mencoba berdagang di bidang pakaian wanita. Apakah akan mengulang kegagalan seperti di masa lalu atau tidak? Tidak ada yang tahu jawaban tersebut kalau tidak dicoba kembali.

Arti atau Makna Nama ‘M.CL

Memilih nama untuk sebuah brand itu tidaklah mudah. Cukup lama memikirkan nama apa yang bagus dan menarik untuk sebuah label baju. Mendekati akhir tahun 2014, saya putuskan memberi nama M.CL. Entah bagus atau tidak, tetapi saya suka dengan nama tersebut. Suami pun menyetujuinya.

Bermakna ganda. M.CL itu memiliki dua makna. Pertama, M.CL adalah singkatan nama dari anak pertama saya. Kedua, M.CL memiliki kepanjangan dari My Clothing Line. Untuk logo, saya menyukai disain yang simpel dan elegan. Saya pilih warna hitam dengan font standar tanpa banyak variasi. Logo bunga merah dan tanda titik hanya sebagai pemanis saja yang melambangkan kesan feminim. Believe it or not, saya membuat logo M.CL hanya dengan menggunakan aplikasi Line Camera loh. Haha. 😅

Konsep Baju M.CL

Sebelum proses produksi berjalan, saya sudah menentukan konsep baju seperti apa yang akan menjadi ciri khas M.CL. Hampir sama seperti jaman kuliah dulu, saya menginginkan konsep baju khusus perempuan yang terkesan mewah. Perbedaannya hanya terletak dari material baju. Saya menginginkan material premium dan berkualitas untuk produk M.CL ini. Tujuannya agar produk M.CL lebih terkesan eksklusif dibanding baju yang saya produksi jaman saya kuliah dulu. So, sebagian besar produk M.CL saya pilih yang berbahan premium satin silk. Konsep lain M.CL adalah produk baju siap pakai ini dapat dipakai dalam segala acara, baik formal maupun kasual. That’s why konsep yang saya sudah tentukan tadi menjadi tagline M.CL yaitu exclusive ready to wear for woman.

Variasi produk M.CL. Kategori produk M.CL yang dijual saat itu hingga saat ini masih pada pakaian wanita yaitu atasan dan bawahan. Jenis atasan yang dijual ada 2 jenis yaitu sleeveless dan short sleeve. Sedangkan untuk jenis bawahan hanya rok. Seluruh produk M.CL tidak memiliki size khusus alias free size atau all size. Namun patokan all sizenya dibuat medium artinya ukuran all size tidak terlalu besar ataupun kecil. Untuk pilihan warna yang tersedia mulai dari netral, pastel hingga vibrant.

Proses Produksi M.CL

Jalannya proses produksi M.CL sampai ke tahap proses penjualan cukup panjang. Mulai dari pembuatan label baju, sketsa, pola, belanja bahan, konveksi, hitung cost hingga akhirnya lolos QC dan siap dijual ke pasaran.

Pembuatan label baju. Suami adalah orang nomor satu yang paling semangat merealisasikan berjalannya bidang usaha ini. Setelah logo disetujui oleh suami, suami mulai mencarikan tempat untuk mencetak logo ke dalam label baju. Bayangkan saking bersemangat, pencarian informasi label sampai ke kota Bandung karena di sana banyak pabrik garmen. Saya dan suami mencari informasi di pasar baru Bandung. Di sana banyak sekali marketing perusahaan besar pembuat label baju. Suami menghubungi perusahan tersebut via email untuk menanyakan detail label termasuk harga. Namanya juga perusahaan besar, harga yang ditawarkan pun masih lumayan tinggi untuk skala usaha M.CL.

Pencarian jasa pembuatan label baju berakhir. Suami menemukan jasa pembuatan label baju via akun Instagram. Setelah kontak ke pembuat label dan seluruh detail bahan, ukuran, jumlah label yang dicetak serta harga sudah oke, label baju siap naik cetak. Pada waktu itu suami langsung memesan dalam jumlah besar yaitu 1000 buah beserta price tag label. Untuk nama akun instagram penjual jasa dan total biaya pembuatan label saya kurang ingat. Yang saya tahu lokasi pembuat ada di daerah Tangerang dan sekitar pertengahan Januari 2015 label baju tiba di rumah.

Sketsa baju. Saya sudah mulai menuangkan ide desain baju dalam bentuk sketsa kasar di aplikasi handphone. Handphone dan aplikasi yang saya gunakan saat itu adalah Samsung Notes 2. Bulan Januari 2015, sketsa kasar tadi saya pindahkan ke sketch book agar saya memiliki dokumentasi sketsa baju dalam bentuk yang rapi. Selain melalui Samsung Note dan sketch book, saya juga menggunakan aplikasi sketsa dan pola di iPhone yang dapat langsung di Print.

Pola. Selesai membuat sketsa rancangan, sketsa tersebut tidak langsung diberikan kepada penjahit. Sometimes, jika diberikan langsung kepada penjahit kemiripan real baju yang dijahit dari rancangan gambar itu masih kurang sesuai ekspektasi. Oleh karena itu, step setelah merancang model baju yaitu menterjemahkan ke dalam potongan pola dalam ukuran baju yang sesungguhnya. Berhubung saya tidak memiliki kemampuan di bidang itu, saya mencari jasa pembuat pola baju. Sampai pada akhirnya saya bertemu dengan Pak Heru.

Pak Heru adalah seorang pembuat pola baju. Saya mendapat kontak informasi tentang beliau dari OLX. Beliau mengiklankan dirinya menerima jasa pembuatan pola baju. Seketika saya langsung menghubungi beliau dan menanyakan biaya jasa polanya. Seingat saya semakin rumit model pakaian, harga pola semakin mahal. Setelah deal biaya jasa, saya dan beliau bertemu. Surprisingly, ternyata beliau bekerja sebagai pattern maker untuk brand (X)S.M.L. Siapa yang tidak tahu brand tersebut? Brand yang awalnya adalah milik desainer Biyan. How lucky i am! It means, kemampuan beliau as a pattern maker pasti sudah tidak diragukan lagi bukan? Dan ekspektasi saya memang benar. Pak Heru luar biasa dapat menterjemahkan gambar yang saya buat ke dalam potongan pola baju yang sebenarnya! Mulai saat itu, saya intens bertemu dengannya setiap weekend untuk memberikan sketsa- sketsa rancangan saya lainnya, saya pun berkonsultasi mengenai size dan material baju dengannya. Sayangnya saya kehilangan kontak beliau saat beliau pindah kerja di luar kota.

Belanja bahan dan aksesoris. Part ini adalah part yang paling saya sukai dalam tahapan proses produksi M.CL. Namun, part ini part terbesar dalam pengeluaran uang di awal proses produksi (sekaligus paling repot). Saya banyak sekali memperoleh informasi tempat membeli bahan yang murah dan bagus. Mulai dari pasar Cipadu Tangerang, Tanah Abang Jakarta hingga pasar Cigondewah dan pasar Baru di Bandung. Beberapa orang juga memberi saran untuk tidak membeli di pasar Mayestik karena harganya yang lebih mahal. Semua saran saya ikuti.

Setiap akhir pekan, saya ditemani suami dan anak untuk hunting bahan baju. Setelah mengunjungi Pasar Cipadu, Tanah Abang dan Cigondewah seperti yang disarankan oleh banyak orang, ternyata bahan baju di sana tidak cocok dengan konsep M.CL. Memang di sana banyak bahan satin sutra yang murah, namun jika dibandingkan dengan kualitas bahan di Pasar Baru Bandung dan Mayestik Jakarta berbeda jauh, beberapa bahan yang saya inginkan juga tidak ada. Pada akhirnya saya putuskan membeli beberapa bahan dengan warna tertentu di salah satu toko kain di pasar Baru Bandung, sisanya sebagian besar di pasar Mayestik Jakarta dan Pronto Ciputat. Sejujurnya harga per-meter di tempat-tempat tersebut mahal tetapi, bahan yang saya beli dan inginkan sejauh ini memang belum saya temukan di pasar Tanah Abang maupun Cipadu.

Selain pemilihan material kain premium berkualitas baik, saya terapkan juga pada aksesoris pelengkap. Saya memilih resleting merek YKK dan kancing berkualitas sangat baik. Saya ingin orang menilai produk M.CL memang benar berkualitas. Jujur, saya seringkali memperhatikan local brand ternama tidak menggunakan resleting tanpa merek. Sayang sekali padahal harga baju yang tertera cukup mahal. Nah, saya tidak ingin orang menilai produk M.CL seperti itu.

Pembuatan sampel baju. Pada tahap ini, pola yang sudah ada tadi sudah bisa diberikan kepada penjahit konveksi. Sebelum dijahit dalam jumlah banyak, penjahit akan membuatkan sampel baju lebih dahulu. Ini dilakukan agar baju yang akan di produksi sesuai dengan pemilik usaha baju. Tujuan intinya tidak komplain ini itu menyalahkan penjahit.

Sempat mengalami hambatan pada penjahit yang selalu mengulur waktu, akhirnya saya memutuskan untuk mencari penjahit lain di mana hal ini memakan waktu lagi ya kan? Ya, Saya menargetkan bulan April sudah mulai berjualan namun sampai bulan Februari sampel belum ready. Saya menargetkan ulang gimana caranya supaya lebaran 2015 itu harus sudah ready to sell.

Tanpa menunggu lama, melalui salah satu blog konveksi, saya menemukan penjahit konveksi profesional. Di katakan profesional sebab saat datang ke tempat konveksi tersebut, karyawannya cukup banyak. Mereka pun tidak ada yang menganggur karena ternyata jumlah klien konveksi seperti saya banyak. Hal yang ada dipikiran saya, wah antrian jahit sebanyak ini apakah bisa sesuai target saya ya bahwa lebaran sudah siap dijual. Jawabannya ternyata bisa! As usual setelah menyepakati harga ongkos jahit, proses produksi selanjutnya siap dilakukan.

Baju siap naik cetak. Melalui penjahit konveksi Pak Nur, nama pemilik usaha konveksi, pembuatan sampel cukup cepat sehingga baju pun siap di produksi massal. Seingat saya, sampel baju itu selesai dibuat kurang lebih 4-7 hari. Jika sudah mendapat acc alias persetujuan dari saya, proses selanjutnya adalah naik cetak alias produksi dalam jumlah besar. Proses produksi di konveksi itu meliputi jahit pakaian, memasang label dan price tag serta mengemas produk ke dalam plastic bag transparan. Singkat kata, si pemilik usaha dagang baju ini terima beres saja deh, tinggal jual! Overall, selama proses produksi di konveksi Pak Nur ini tidak mengalami kendala dan estimasi lamanya waktu pengerjaan sampai akhirnya selesai masih on track alias ga ngaret. Alhamdulillah! Hehe.

So yeah, Story Of M.CL part 1 cukup sampai di sini. Kelanjutan cerita tentang proses penjualan dan lainnya saya tulis di Story of M.CL (part 2).

Thank you for visiting and reading my blog.

Best Regards, 💋



2 thoughts on “STORY OF M.CL PART 1”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *