STORY OF M.CL PART 2

Hello Readers !

Di Story of M.CL (part 1) , saya bercerita bagaimana awal mula terbentuknya M.CL sampai akhirnya masuk ke dalam tahap produksi. Untuk bagian kedua ini, saya masih melanjutkan cerita ‘behind the scene‘ M.CL yang kemarin. Mari kita simak ceritanya yuk!

 

 

PROSES PENJUALAN M.CL

Setelah semua proses produksi yang meliputi semua baju telah ready, price tag dan label telah terpasang, serta pengemasan dalam plastic bag sudah di lakukan, proses selanjutnya adalah proses penjualan. Proses penjualan meliputi penentuan harga jual hingga produk launch ke pasaran.

 

Harga jual produk M.CL. Sebelum produk benar-benar ditawarkan langsung ke pasar, hal yang paling penting adalah menentukan harga jual. Penentuan harga jual tidak hanya menghitung cost bahan baku dan cost jasa pembuat, hal di sini penjahit. Beberapa hal lain juga harus diperhitungkan yang akan menjadi dasar acuan harga produk itu sendiri.

Setelah produk launch, beberapa atau mungkin banyak orang termasuk keluarga dan teman dekat, menganggap harga jual M.CL terlalu tinggi. Komentar produk lokal kok mahal? Harganya baju online kok kaya baju di mall? Mending beli baju bermerek paten sekalian? It’s ok kalau dibilang seperti itu, saya tidak keberatan. Harga produk M.CL itu berkisar 160 ribu rupiah hingga 250 ribu rupiah dan menurut saya memang mahal untuk local brand baru. Yaa mungkin mereka tidak tahu bahwa seperti yang sudah saya katakan harga jual M.CL bukan hanya dari biaya bahan baku dan jasa pembuat saja, ada banyak faktor penentunya.

Bisa dikatakan modal awal M.CL itu besar. Bagi saya total uang yang dikeluarkan awal sekitar 40 juta untuk merintis usaha pakaian online termasuk besar. Uang dengan jumlah tersebut kayanya bisa jadi tabungan cicil dp rumah ya kan? daripada untuk bikin usaha clothing brand yang hasilnya memang gambling antara menguntungkan atau malah rugi. But, yah saya dan suami memang ingin mencoba bisnis ini, berhasil atau tidak, prinsip kami berdua saat itu coba dulu deh.

 

 

Jadi produk M.CL mahal karena modal yang sudah dikeluarkan juga besar? Singkat kata sih memang seperti itu ya. Namun, rincian cost dibawah ini dapat menjelaskan mengapa harga baju M.CL mahal.

  1. Biaya transportasi. Cost pengeluaran meliputi bbm, tol dan parkir untuk kebutuhan produksi mulai dari pencarian info tempat pembuatan label dan bahan kain, ke tempat urusan pembuatan pola, pembelian material kain dan aksesoris untuk baju M.CL, dan bolak tempat konveksi. Cost ini memang terlihat tidak penting namun jika diakumulasikan jumlahnya besar. Apalagi ongkos bolak-balik Jakarta – Bandung.
  2. Biaya pembuatan label dan price tag. Sepele tetapi cost ini tetap diperhitungkan untuk menentukan harga jual.
  3. Biaya pembuatan pola baju. Harga dihitung per model baju. Semakin rumit model, semakin mahal.
  4. Harga pembuatan sampel baju.
  5. Harga jasa pembuatan baju. Semakin sulit juga semakin mahal ongkos pembuatannya.
  6. Biaya material kain. Harga kain per meter yang digunakan untuk pembuatan baju M.CL berkisar antara 50 ribu hingga 100 ribu-an. M.CL bukan brand besar yang membeli 1 gulungan penuh kain sehingga harga beli kain dihitung per meter. Berbeda dengan brand besar yang membeli kain dalam jumlah besar dan mereka pun biasanya membeli langsung ke produsen pembuat kain sehingga harga untuk pembelian kain lebih murah.
  7. Biaya aksesoris pelengkap seperti kancing, resleting dan pengait. M.CL memilih aksesoris yang berkualitas paling baik. Untuk resleting pun menggunakan resleting jenis invisible alias resleting jepang merek YKK.
  8. Biaya keperluan packaging M.CL.
  9. Biaya keperluan dokumentasi foto produk yaitu backdrop. Penjualan M.CL adalah penjualan online sehingga foto produk yang memeperlihat detail produk itu penting.

 

Untuk menghitung keseluruhan cost tersebut sampai akhirnya menghasilkan harga M.CL per pieces, saya dibantu oleh suami melalui program excel. Secara hitungan kotor, modal 1 baju itu bisa mencapai sekitar 150 ribu rupiah. Ya mungkin metode perhitungan harga jual setiap penjual atau pelaku bisnis berbeda-beda. Namun, M.CL dalam menentukan harga jual berdasarkan faktor-faktor yang saya sebutkan di atas. So, M.CL tidak asal dalam memberikan harga jual. Harga jual tersebut sudah melalui perhitungan yang matang.

 

Foto produk. Salah satu keberhasilan berjualan produk secara online adalah foto produk yang menarik dan dapat menampilkan detail produk dengan baik. Sebenarnya sih saya mau banget menyewa model bule seperti local brand lainnya. Apalah daya modal terbatas untuk membayar model professional dan jadilah saya sebagai model untuk brand sendiri. Tinggi dan size badan saya pun bukan model banget lah. Tetapi kalau tidak ada foto langsung di model real, bukan patung, juga kurang bagus apalagi konsep M.CL premium masa foto produknya patung. Saya sempat berpikir demikian jadi ya sudah saya mencoba berpose layaknya model profesional saja.

 

 

Bermodalkan kamera digital sederhana, backdrop berwarna hitam dan ruang tv di rumah, saya melakukan photoshoot. Fotografernya? Siapa lagi kalau bukan suami saya. Suami saya fotografer? Oh tentu saja bukan. Intinya photoshoot ini dilakukan oleh dua orang amatiran. Model amatiran seadanya begitupun fotografernya. Haha. Saat melakukan photoshoot ini, banyak sekali menemukan kendala. Mulai dari lightening, backdrop hingga anak yang rewel. Bagaimanapun juga sesi foto produk harus segera selesai agar produk bisa langsung dijual. Setelah selesai sesi tersebut, menurut saya hasilnya pun kurang oke. Produk pun tidak merepresentasikan sesuatu yang mahal dan premium. Jujur saat itu saya pesimis, takut kalau produknya tidak ada yang beli. Hasil foto yang ditampilkan terlihat cheap padahal produknya sendiri aslinya mahal. Demi produk harus terjual, foto yang sudah sedikit diberi editan, saya langsung upload di media sosial. Mulai dari Facebook pribadi, Path, Instagram pribadi dan Instagram M.CL.

 

 

Pemanfaatan ECommerce. Beberapa hari setelah launch dan upload, masih saja belum ada respon. Saat itu saya berpikir bagaimana cara agar produk saya itu dikenal banyak orang, tidak sebatas oleh inner circle saya saja. Mau meng-endorse artis mahal karena budget kan terbatas. Lalu terpikirkan oleh saya untuk join dengan perusahaan ecommerce dan butik offline di Bandung. Ecommerse saat itu yang saya pilih ada Zalora, Berrybenka, dan 8wood. Sedangkan butik offline saya pilih Happy Go Lucky Bandung. Dari keseluruhan syarat yang diajukan, Zalora lah yang paling mudah. Lainnya ada yang meminta 25-30% keuntungan, setiap bulan harus ada produk baru, dan beberapa syarat lainnya yang sedikit memberatkan M.CL.

 

 

Sesi foto kedua untuk Zalora. Setelah menghubungi PIC (Person In Charge) Zalora, saya disuruh untuk mengirimkan sampel produk M.CL. Setelah disetujui oleh pihak Zalora, mereka akan mengirimkan dokumen kontrak perjanjian untuk ditandatangani. Setelah urusan penandatanganan kontrak selesai, saya diberi akun untuk mengelola penjualan M.CL. Namun, sebelum tayang di web, ternyata Zalora memiliki persyaratan agar background foto produk berwarna putih seperti contoh foto produk mereka dan size foto tidak lebih dari 2MP.

 

 

Selintas berpikir untuk menyewa studio agar foto lebih profesional, tetapi dengan waktu yang terbatas, saya tidak menemukan tempat dan harga yang ‘ramah’ di kantong. Kenapa sih tidak mau mengeluarkan budget sedikit lagi? Karena budget yang saya dan suami keluarkan sudah sangat lah besar. Apalagi semuanya pakai uang tabungan sendiri. So, menyiasatinya adalah membeli backdrop khusus foto berwarna putih. Suami membelinya di sebuah studio foto di daerah Bekasi yang kebetulan menjual juga perlengkapan fotografi.

 

 

Backdrop putih sudah ada, waktunya untuk kembali melakukan sesi foto. Sesi foto kedua ini tidak dilakukan di rumah. Namun dilakukan di rumah mertua saya di Bandung. Alasannya karena pencahayaan di rumah saya gelap dan kurang bagus, saat itupun tidak terpikirkan untuk membeli lampu sorot kecil. As usual walaupun ada gangguan dari anak, sesi foto berjalan lancar dan hasil foto jauh lebih baik dari yang kemarin.

 

Mulai berjualan di Zalora Indonesia. Setelah meng-edit foto agar background benar-benar putih kesekian kalinya – ternyata syarat foto di Zalora ribet dan repot banget deh – akhirnya foto produk M.CL tayang di web. Horeee, alhamdulillah! Sekitar bulan Juli 2015, M.CL mulai berjualan di Zalora. Respon penjualan juga sangat bagus. Hampir setiap hari ada yang membeli. Hal itu membuat saya terkejut dan tak menyangka. Awalnya, saya berpikir produk saya benar-benar tidak disukai karena inner circle saya saja tidak ada yang merespon, jangankan membeli, bertanya tentang info produk pun tidak. Namun, sejak bergabung dengan Zalora penjualan sangat lancar bahkan salah satu artis televisi membeli produk saya melalui Zalora. Mengejutkan bukan?

 

 

M.CL bermasalah dengan Zalora, penjualan berhenti. Bekerja sama dengan Zalora memang tidak 100% menguntungkan dan menyenangkan. Kebijakan yang dibuat terkadang merugikan seller, seperti kebijakan pengembalian barang dengan batas waktu 30 hari (pernah terjadi sekali pada M.CL) dan ongkos kirim yang ditanggung oleh seller jika mereka mengadakan promo free ongkir. But yeah, saya akui juga Zalora luar biasa membantu lancarnya penjualan saya hingga dua jenis produk M.CL sold out. Hampir setiap hari saya mengemas dan mempersiapkan produk yang siap diambil oleh kurir untuk kemudia diteruskan pengiriman kepada konsumen.

 

 

Di tengah ramainya pembeli, PIC M.CL mengalami pergantian orang. Pergantian PIC ini menimbulkan masalah yang berimbas pada penjualan. Saya tidak dapat menjelaskan masalahnya secara rinci. Akhirnya karena masalah yang menurut saya sedikit ‘mengada-ada’, saya putuskan untuk menghentikan kerjasama dengan Zalora. Ya, seingat saya per April 2016, M.CL keluar dari Zalora Indonesia. Penjualan pun menurun dan berhenti karena M.CL sebelumnya hanya mengandalkan penjualan melalui Zalora sehingga tidak aktif berjualan di media sosial seperti Instagram.

 

Beralih ke E-Commerce lainnya. Jujur, setelah bermasalah dengan Zalora, motivasi saya untuk berjualan produk M.CL menurun. Perasaan kesal masih menyelimuti hati dan pikiran. Namun, penjualan harus tetap berjalan agar stok M.CL habis.

Tidak lama setelah keluar dari Zalora, walaupun motivasi menurun, saya tetap mencari cara untuk menjual produk melalui ecommerce. Disaat sedang mencari, saya mendapat email dari matahari mall dot com. Email tersebut berisi penawaran kerja sama seperti di Zalora. Setelah membaca proposal kerja sama, saya menyetujui bergabung dengan matahari mall dot com. Prosesnya sama persis dengan Zalora, yang membedakan hanya pada ketentuan foto produk. Ketentuan foto produk di ecommerce ini tidak seketat Zalora. Mungkin karena background foto juga sudah putih ya? Hehe.

 

Bergabung dengan Matahari Mall dot com. Setelah semua ready, foto dan caption sudah di upload, M.CL tayang di web matahari mall dot com. Seminggu setelah bergabung belum menunjukkan respon positif hingga akhirnya saya memberikan diskon. Saya memberikan diskon karena produk M.CL sudah hampir setahun dan fokus penjualannya saat itu sudah harus segera dihabiskan agar bisa kembali produksi model baru. Namun, beberapa bulan selang bergabung tetap sepi pembeli. Sampai sekarang pun, tahun 2019, saya belum menutup akun atau menghentikan kerja sama dengan matahari mall dot com. Seperti menggantung dan banyak pertanyaan mengapa tidak satupun produk yang keluar saat berjualan di e-commerce tersebut. Salah satu pertanyaannya, apakah M.CL yang tidak diminatiZ atau memang matahari mall dot com yang sepi pengunjung? Hahaha.

 

 

M.CL SAAT INI

Setelah bergabung dengan matahari mall dot com dan respon penjualan tidak ada, M.CL tidak aktif berjualan, tepatnya dari akhir tahun 2016 hingga saat ini. Salah satu alasan utama tidak aktif mengurusi M.CL adalah saya sibuk mengantar anak sekolah dan hamil anak. Lalu produk yang masih ada dikemanakan? Produk yang masih tersisa ya tetap disimpan dan dijual dengan harga yang lebih rendah (di bawah harga modal) karena produk yang sudah lama harus mengalami reduksi harga. M.CL memang masih tetap menjual produk hanya saja tidak aktif dalam mempromosikan seperti dulu.

 

Apakah M.CL sudah balik modal? Pertanyaan ini beberapa kali ditanyakan oleh teman dan keluarga. Apakah hasil penjualan M.CL sudah menguntungkan atau belum. M.CL sudah berhasil atau belum? jawabannya belum. Saya akui, M.CL belum berhasil dan masih banyak kekurangannya. Untuk balik modal pun belum tercapai karena setengahnya saja mungkin belum sampai. Rugi? Dikatakan rugi secara materi, iya. Dikatakan rugi secara pengalaman, tidak. Saya dan suami tidak pernah menyesal sudah mengeluarkan uang untuk modal usaha M.CL ini. Melalui M.CL, Saya pribadi juga masih belum berhasil kembali menjalankan usaha berjualan di bidang pakaian saat ini, tidak tahu lusa, bulan depan atau tahun depan mungkin akan berhasil. Trauma membuka usaha berjualan? Tentu saja tidak. Hal terpenting adalah saya sudah mencoba berjualan. Apalagi di tengah persaingan ketat dalam penjualan pakaian, M.CL berani hadir setidaknya sempat eksis di e-commerce. It’s a lil bit achievement for me. Mungkin di bidang fashion ini belum berhasil, tetapi tidak tahu di bidang yang lain, seperti kuliner atau lainnya? Suatu saat akan saya coba. Intinya jangan takut gagal sebelum mencoba. Be optimistic! I never stop to learn something new to get new experience in my life.

Do you know? Kadangkala, pembelajaran dalam suatu peristiwa di kehidupan harus dibayar dengan harga mahal. Oleh karenanya, kebelumberhasilan menjalankan usaha M.CL dan segala hal yang terjadi selama menjalankan bisnis ini, menjadi salah satu pengalaman mahal dan berharga di dalam cerita kehidupan saya dan suami.

Thank you for visiting and reading my blog. Hopefully this story can inspire you all.

Best Regards, 💋



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *